Tampilkan postingan dengan label AKIDAH. Tampilkan semua postingan


Pengertian Kreatif dan Produktif, Sifat, Ciri dan Nilai-nilai Positifnya.



Kreatif dan Produktif

Kata kreatif berasal dari bahasa Inggris create yang berarti mencpitakan. Creation berarti ciptaan, sedangkan kreatif (creative) berarti memiliki daya cipta. Sedangkan Produktif berarti banyak mendatangkan hasil dan banyak mengasilkan sesuatu. Kedua sifat tersebut termasuk akhlak karimah yang perlu dimiliki oleh seorang yang ingin maju.

Jadi, kreatif yaitu seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru. Orang yang kreatif selalu melihat dan berpikir bahwa Allah Swt, menciptakan alam semesta ini senantiasa tidak akan sia-sia dan untuk dimanfaatkan sepenuhnya untuk keperluan hidup manusia. Dengan konsep kreatif seperti ini maka akan memicu orang tersebut untuk produktif atau selalu berfikir untuk berusaha mendatangkan banyak hasil dari apa yang telah ia lakukan.

Namun perlu dijadikan pegangan kuat bahwa modal yang telah Allah Swt berikan kepada kita dalam bentuk akal sehingga muncul kreatifitas dan menjadikan hidup lebih produktif harus dibarengi dengan pengetahuan keimanan dan ketaqwaan yang baik, sehingga dapat menggunakan akal untuk berfikir kreatif selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran Islam dan berakhlak yang luhur, sehingga dapat menjadikan hidup ini lebih berkah dan bermanfaat bagi sesame. Jika tidak demikian, maka banyak contoh yang telah terjadi, bagaimana seorang pejabat justru menggunakan kreatifitas dan produktifitasnya pada jalan yang salah, seperti korupsi, penipuan dan hal-hal lain yang dilarang dalam ajaran Islam.

Perlunya memiliki sifat kreatif dan produktif

Zaman semakin maju, persaingan hidup makin ketat, bahkan saat ini batas antar bangsa dan Negara terasa hilang, sehingga manusia di dunia ini bebas untuk masuk ke Negara manapun dengan maksud dab tujuan yang mereka inginkan.

Keadaan seperti ini mengaharuskan seorang muslim untuk bersaing dalam segala bidang, bukan hanya berusaha membentengi diri dengan keimanan namun juga berusaha menyeimbangkan diri dengan perkembangan yang ada agar tidak tertinggal dan tidak terbelakang. Kebutuhan hidup juga menjadi satu pertaruhan untuk tetap bisa bertahan dan berkembang, bahkan harus tercukupi. Oleh karena itu kreatifitas sangat diperlukan dalam menciptakan lapangan pekerjaan. Selain itu juga dibutuhkan produktifitas agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Dengan manusia memiliki kreatifitas dan produktifitas yang bagus maka akan muncul inovasi-inovasi baru untuk terus meningkatkan kemampuan diri dalam keahliannya. Allah Swt berfirman:

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…”


Menurut ayat di atas, manusia tidak boleh menunggu nasib baik, tetapi harus berusaha secara sungguh-sungguh. Allah Swt menyediakan semua kebutuhan hidup manusia, tetapi ia harus mau berusaha untuk mendapatkannya. Rasulullah Saw bersabda yang artinya: “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari pada mukmin yang lemah….(HR. Muslim)

Rasulullah Saw mengajak kepada setiap mukmin agar berusaha menjadi mukmin yang kuat. Kuat yang dimaksud harus memenuhi persyaratan, yaitu:

  1. Kuat fisik, artinya gizi terpenuhi, olah raga teratur, dan istirahat yang cukup
  2. Kuat harta, artinya kebutuhan hidup dapat dipenuhi
  3. Kuat mental, artinya memiliki keberanian dalam menghadapi berbagai persoalan
  4. Kuat iman, artinya menjalankan ibadah sesuai dengan petunjuk agama
  5. Kuai ilmu, artinya dapat menyelesaikan persoalan yang dihadapi agar dapat mencapai cita-cita.

kreatif, produktif

 Pengertian

Sikap kerja keras berarti bersungguh-sungguh, bersemangat tinggi dalam mengerjakan sesuatu. Tekun dan ulet, tidak mudah menyerah apabila menghadapi kendala atau kesulitan. Setiap usaha memerlukan kesungguhan walaupun kadarnya berbeda. Sikap seperti ini akan menuntun pada sebuah keberhasilan dan kesuksesan serta mencapai apa yang telah diinginkan.

b. Perintah untuk kerja keras

Islam mendidik umatnya untuk memiliki sikap kerja keras, pandai-pandai memanfaatkan waktu dan tidak bermalas-malasan. Dalil yang mendorong manusia agar memiliki sikap kerja keras, antara lain sebagai berikut: َنو ُ َل ْعَت َف ْو َسَف ٌل ِماَع ي ِن�ِإ ْ ُكِت َن َكَم َلَع اوُلَ ْعا ِم ْوَق َي� ْلُق Artinya: Katakanlah: “Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja pula, maka kelak kamu akan mengetahui , Az-Zumar: 39 َنو ُحِلْفُت ْ ُكَل َعَل ًا ي�ِث َك َ َلا او ُر ُك ْذاَو ِ َلا ِل ْض َف نِم اوُغَتْباَو ِضْرَأ ْلا ي ِن� اوُ ِش�َتناَف ُة َا َصلا ِتَي ِضُق اَذِإَف Artinya: Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung . Al-Jumu’ah: 10 akidah akhlak siswa kls 9__revisi.indd 30 61616 5:38 PM Di unduh dari : Bukupaket.com 31 Akidah Akhlak - Kelas IX Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah engkau mencapai sesuatu yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa tak berdaya ….” HR. Muslim dari Abu Hurairah. Dalil al-Qur’an dan hadis di atas merupakan pedoman dan dasar umat manusia untuk bekerja keras dalam kehidupannya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia yang tentunya diperuntukkan untuk ibadah kepada Allah swt.

c. Membiasakan diri berperilaku kerja keras.

Sikap kerja keras seharusnya menjadi sikap setiap muslim. Untuk dapat memiliki sikap kerja keras, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: 1. Selalu menyadari bahwa hasil yang diperoleh dari jerih payahnya sendiri lebih terpuji dan mulia daripada menerima pemberian dari orang lain 2. Islam memuji sikap kerja keras dan mencela meminta-minta 3. Memiliki semboyan tidak suka mempersulit orang lain dengan mengharapkan bantuannya 4. Menyadari sepenuhnya bahwa memberi lebih mulia daripada meminta. Maka untuk menjadi orang yang mampu bekerja keras kita harus memperhatikan beberapa hal di bawah ini: 1. Kuatkan niat bahwa kerja keras itu adalah ibadah. 2. Kerjakan sesuatu itu dengan sungguh-sungguh. 3. Jangan menyerah jika menemui kesulitan. 4. Hindari sesuatu yang melanggar agama. 5. Bertawakal kepada Allah swt setelah bekerja keras. Ujian bagi seseorang yang telah berhasil mencapai apa yang ia inginkan melalui hasil kerja keras dan jerih payahnya adalah sifat sombong. Hal ini harus diwaspadai jangan sampai setelah memperoleh apa yang telah diinginkan kemudia kita sombong dan lupa akan bersyukur kepada Allah swt. Karena pada dasarnya apa yang telah kita peroleh merupakan karunia dan nikmat yang diberikan oleh Allah swt kepada kita setelah bekerja keras dan sungguh-sungguh serta niat untuk ibadah kepada Allah swt.

kerja keras

 Hikmah Beriman kepada Hari Akhir

Kewajiban beriman kepada hari akhir sudah diberitakan dalam Al-Qur’an dan hadis. Namun, bisa dipertegas oleh dalil aqli (akal pikiran). Secara akal, kita bisa berpikir bahwa segala sesuatu yang ada di alam dunia mengalami perubahan. Setiap perubahan pastinya juga akan membutuhkan akhir.


Sesuatu yang berakhir mempunyai tanda-tanda yang diberitakan oleh Al-Qur’an dan hadis, serta bisa diterima oleh akal. Keyakinan terhadap adanya hari akhir akan memberikan hikmah atau efek yang sangat besar dalam kehidupan manusia, paling tidak manusia akan merasa takut terhadap azab yang akan diberikan Allah SWT setelah terjadinya hari akhir. Hal ini akan membuat manusia selalu berhati-hati dalam bertindak dan akan selalu memperbanyak amal ibadah sewaktu di dunia.


Menurut Nurhayati Rusdi, meyakini akan adanya hari pembalasan sebagai rangkaian peristiwa yang harus dijalani setelah hari kiamat akan menimbulkan kedisiplinan dan kewaspadaan, sebab seluruh amal tidak ada yang luput dari pengawasan Allah SWT.


Berdasarkan pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa seseorang yang beriman kepada hari akhir akan menimbulkan kedisiplinan dan berusaha menjadi lebih baik karena tidak ada amal yang luput dari pengawasan Allah SWT. Dalam hal ini, kedisiplinan yang dimaksud adalah kedisiplinan beribadah kepada Allah SWT.


Menurut jumhur ulama, ibadah itu yang mencakup segala perbuatan yang disukai dan diridai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik terang-terangan maupun tersembunyi dalam rangka mengagungkan Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.


Pengertian pahala tersebut termasuk segala bentuk hukum, baik yang berupa ma’qulat al-ma’na (dapat dipahami maknanya), seperti hukum yang menyangkut dengan muamalah pada umumnya maupun yang berupa ghair ma’qulat al ma’na (tidak dapat dipahami maknanya), seperti salat, baik yang berhubungan dengan anggota badan (misalnya rukuk) maupun yang berhubungan dengan lidah (misalnya zikir dan niat).


Pendidikan agama di sinilah berperan sebagai sarana transformasi pengetahuan dalam aspek keagamaan (aspek kognitif), sarana transformasi norma, serta nilai moral untuk membentuk sikap (aspek afektif). Selain itu, pendidikan agama juga berperan dalam mengendalikan perilaku (aspek psikomotorik), sehingga tercipta kepribadian manusia seutuhnya.


Pendidikan agama Islam diharapkan mampu menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan berakhlak mulia yang mencakup etika, budi pekerti, atau moral sebagai perwujudan dari iman kepada hari akhir.


Melalui keimanan dan keyakinan terhadap adanya hari akhir, manusia memiliki harapan kehidupan yang kekal dan penuh dengan kenikmatan yang hakiki. Jika memang manusia merasakan alam kubur sebelum hari akhir, kita diperintahkan untuk berlindung kepada Allah SWT dari siksa kubur.


Pergunakanlah dunia yang dianugerahkan oleh Allah SWT untuk mencari kenikmatan akhirat, yaitu surga. Kewajiban seorang mukmin adalah memanfaatkan dunia ini untuk manfaat akhirat, bukan untuk kemaksiatan dan kezaliman.


Adapun beberapa hikmah beriman kepada hari akhir adalah sebagai berikut.


1. Bersikap Mawas Diri

Sebagai hamba Allah SWT di muka bumi, kita tidak boleh berperilaku semena-semena dan mengikuti semua hawa nafsu kita. Mengapa? Semua yang kita lakukan di dunia ini akan berakibat kepada kehidupan di alam akhirat. Inilah yang menyebabkan kita harus bermawas diri.


2. Rendah Hati dan Tidak Sombong

Sehebat apapun manusia dan setinggi apa pun jabatannya, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Semua manusia akan hancur dan binasa. Ilmu, kekuasaan, dan harta yang dimiliki manusia, semua itu hanyalah titipan atau amanah dari Allah SWT.


3. Kesadaran untuk Taat Beribadah

Surga dan neraka adalah tempat tinggal manusia di alam akhirat. Surga sebagai balasan amal baik yang disediakan bagi hamba-Nya yang bertakwa, sedangkan neraka sebagai balasan amal buruk yang disediakan bagi hamba-Nya yang durhaka.


4. Bertanggung Jawab

Pada hari akhir, manusia akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatannya di dunia. Itu artinya bahwa kita harus bertanggung jawab atas segala perbuatan yang kita lakukan di dunia, serta mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT kelak di akhirat. Besar atau sekecil apa pun amal perbuatan kita pasti akan mendapatkan balasannya di akhirat nanti.


Nah, itulah penjelasan singkat mengenai Pengertian dan Hikmah Iman kepada Hari Akhir. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui waktu terjadinya kiamat. Namun yang pasti, kiamat akan terjadi sewaktu-waktu nanti. Manusia hanya diberi informasi terkait tanda-tandanya saja. Sebagai manusia, tugasnya hanya berbuat sebaik-baiknya dan bersiap menghadapi hari akhir.


hikmah beriman kepada hari akhir

- Copyright © MATERI IPS BENUA ASIA - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -